Minggu, 22 Maret 2020

Creative Problem Solving

Creative Problem Solving
Creative Problem Solving (CPS) merupakan salah satu pengembangan dari pembelajaran problem solving. CPS adalah suatu pendekatan pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan kreativitas (Novitasari, 2015). Ketika dihadapkan dengan suatu pertanyaan, siswa dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya, tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir. 

Creative problem solving berasal dari kata creative, problem, dan
solving. Creative artinya banyak ide baru dan unik dalam mengkreasi solusi serta mempunyai nilai dan relevan; problem artinya suatu situasi yang memberikan tantangan, kesempatan, yang saling berkaitan; sementara solving, artinya merencanakan suatu cara untuk menjawab atau menemukan jawaban dari suatu problem (Isrok’atun, 2012). Secara harfiah, CPS dapat diartikan sebagai kemampuan dalam merencanakan suatu cara/ide yang baru dan unik guna menjawab sebuah problem yang sedang dihadapi. 

Pemecahan masalah dikatakan kreatif apabila ide dan produk yang dihasilkan selama proses pemecahan masalah memang benar asli dari pemikiran siswa dan sesuai dengan solusi yang diharapkan. Untuk memperoleh pemecahan masalah (solusi) yang kreatif maka sangat diperlukan teknik pengumpulan ide dan pendapat serta informasi yang relevan dari luar (Pepkins, 2004). Sejumlah alternatif pemecahan masalah sangat penting karena pemecahan masalah terbaik berasal dari sejumlah pilihan ide yang terbaik. Konsekuensi dari hal tersebut menyarankan bahwa untuk memperoleh pemecahan masalah yang kreatif diperlukan adanya interaksi dengan orang lain. Menurut Pepkins (2004) pemecahan masalah kreatif dapat dilakukan secara individu, namun demikian akan lebih efektif jika dipecahkan secara berkelompok. 

Model pembelajaran pemecahan masalah dalam hal ini model pembelajaran pemecahan masalah kreatif (creative problem solving) adalah suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran pemecahan masalah dan keterampilan memecahkan masalah, yang diikuti dengan penguatan ketrampilan memecahkan masalah tersebut (Pepkins, 2004). Ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan, siswa dapat melakukan keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa dipikir, keterampilan memecahkan masalah memperluas proses berpikir. Pengalaman dalam pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa. Berpikir kritis diperlukan dalam rangka memecahkan suatu permasalahan sehingga diperoleh keputusan yang cepat dan tepat. 

Menurut Mitchell dan Kowalik (dalam Iswanti, 2012) crative problem solving adalah suatu cara berpikir dan bertindak dalam memecahkan suatu permasalahan. Kreatif (creative) adalah suatu ide dasar yang bersifat asli (orisinil), inovatif, efektif, dan komplek untuk menghasilkan suatu solusi yang memiliki nilai dan relevansi. Masalah (problem) adalah kesenjangan antara situasi nyata dengan kondisi yang diinginkan, situasi yang memiliki tantangan, dan mengkonfrontasikan individu atau kelompok untuk menemukan jawaban. Pemecahan (solving) dalam hal ini pemecahan masalah adalah penemuan jawaban dari masalah yang dihadapi. Jadi creative problem solving adalah suatu proses, metode atau sistem untuk mendekati suatu masalah dengan cara yang efektif dan efisien. 

Menurut Kowalik (dalam Isrok’atun, 2012) keistimewaan dari model pembelajaran creative problem solving adalah menempatkan siswa pada situasi yang nyata, karena masalah yang dikemukaan merupakan tipe masalah yang ill defined, kompleks dan bermakna, dengan pemecahan yang kreatif dari siswa. Hal ini sejalan dengan riset di bidang pendidikan yang menunjukkan bahwa sebuah teknik yang efektif untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving) adalah dengan membiarkan siswa untuk menghadapi masalah-masalah yang terkait dengan isu-isu kompleks (ill-defined problem) sesering dan sedini mungkin yang terkait dengan bidangnya. Siswa dapat bekerja dalam tim (kelompok), berkolaborasi dan menunjukkan sikap yang profesional dalam memecahkan masalah menggunakan situasi nyata yang seluas-luasnya. 

Suatu soal yang dianggap sebagai “masalah” adalah soal yang memerlukan keaslian berpikir tanpa adanya contoh penyelesaian sebelumnya. Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya, karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan biasanya telah ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyelesaikannya. Siswa menggunakan segenap pemikiran, memilih strategi pemecahannya, dan memproses hingga menemukan penyelesaian dari suatu masalah (Suyitno dalam Isrok’atun, 2012). 

Masalah diberikan di awal pembelajaran, sehingga terkadang siswa belum memiliki informasi yang lengkap untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun demikian siswa harus menyelesaikan masalah dengan menggunakan solusi yang terbaik dari data yang tersedia. Siswa akan berusaha mengaitkan prinsip atau konsep matematika yang terkait untuk memecahkan permasalahan. Apabila ada konsep yang belum mereka peroleh sebelumnya yang berkaitan dengan pemecahan masalah, maka konsep itu akan dipelajari sendiri oleh siswa secara mandiri, sehingga siswa akan menjadi lebih ingat terhadap konsep yang mereka pelajari sendiri tersebut. 

Adapun sintaks model pembelajaran pemecahan masalah kreatif (creative problem solving), dikemukakan oleh Helie dan Sun (2010) sebagai berikut. 

(1) Klarifikasi Masalah 
Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan. Klarifikasi masalah diperlukan karena penyelesaian terhadap suatu masalah sangat tergantung pada pemahaman terhadap masalah itu sendiri. Sekali masalah berhasil dirumuskan maka langkah berikutnya dapat dilalui dengan mudah. 

(2) Pengungkapan Pendapat 
Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam solusi/penyelesaian masalah. Siswa berusaha untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Untuk itu setiap siswa harus kreatif, berpikir secara divergen, dan memiliki daya temu yang tinggi. 

(3) Evaluasi dan Pemilihan 
Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau solusi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah. Siswa meninjau kembali pendapatnya dengan memberikan penjelasan dari setiap pendapat yang diungkapkan, dengan demikian dapat dicoret strategi/cara/penyelesaian yang kurang relevan. Pada tahap ini siswa menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang kritis, selektif, dengan berpikir secara konvergen. Siswa memilih alternatif terbaik yang digunakan sebagai solusi. 

(4) Implementasi
Pada tahap ini siswa menentukan solusi mana yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. 

Secara umum dasar pemikiran dari pemecahan masalah kreatif (creative problem solving) adalah keseimbangan yang dinamis antara pemikiran divergen dan konvergen (Suryosubroto, 2009: 197). Dalam model pembelajaran creative problem solving, siswa dilatih untuk memikirkan berbagai macam solusi yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah, mengumpulkannya, dan akhirnya menemukan satu fokus solusi yang tepat untuk diimplementasikan dalam memecahkan suatu masalah secara kreatif.

Dalam pembelajaran creative problem solving siswa dibimbing agar mampu menentukan kebutuhannya, menganalisis informasi yang diterima, menyeleksi, dan memberi arti pada informasi baru. Berdasarkan klasifikasi Guilford (Suryosubroto, 2009: 198) dalam ranah operasi terdapat produksi berpikir divergen, dan dari komponen inilah kreativitas dikembangkan. Proses pemecahan masalah dimulai adanya input yang datang dari lingkungan atau dalam diri pribadi, dan yang mendapatkan perhatian hanyalah yang ada kesesuaian dengan cadangan memori dalam otak. Lalu masuk dalam kognisi baik yang terkait dengan masalah maupun kognisi secara umum. Produksi divergen berusaha mencari beberapa alternatif pemecahan. Setelah menentukan pilihan maka masuklah dalam produksi konvergen yang merupakan output.

Rujukan
Helie, S dan Sun, R. (2008). Knowledge Integration in Creative Problem Solving. Dalam http://www.helie-cog08-cps.pdf. Diakses 12 Agustus 2017

Isrok’atun. 2012. Creative Problem Solving (CPS) Matematis. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika dengan tema ”Kontribusi Pendidikan Matematika dan Matematika dalam Membangun Karakter Guru dan Siswa” di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY . 10 Nopember 2012

Iswanti, Rima. 2012. Penggunaan Metode Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Dengan Media Berbasis ICT untuk Meningkatkan Hasil Belajar Melaksanakan Pelayanan Prima. Skripsi (Tidak Diterbitkan). FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta

Joyce, B. dan Weil, M. 2003. Models of Theaching. New Delhi: Prentice Hall of India.

Novitasari, Dian. 2015. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa. Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika Fibonacci Vol. 1 hlm. 43-57

Pepkins, K.L. 2004. Creative Problem Solving In Math. Artikel. Dalam http://www.mathematic.transdigit.com/index.Php/category/mathematicinfo/. Diakses 12 Agustus 2017

Suryosubroto, B. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

0 komentar:

Posting Komentar